kehidupan adalah sebuah penjelajahan yang tak kekang oleh waktu. anda harus bisa mengambil hikmah dr seluruh apa yang anda lihat, rasakan, dan dengar.....
Sabtu, 02 Juli 2011
niiii diaaa !!!
bromo in style :)
massih ada erupsi katta orang sekitar, 5 taun sekali bakalan terjadi.
para suku tenggerpun telah menyiapkan uang untuk persedian musim erupsi..
suer,,, pasirnya banyak banget, pohon njuga banyak yang tumbang lhoo..
dan yang kalian tau kawann !!! ternyata di sana ada savananya jugga lhoo..
lebih mirip bukit teletubies.
banyak yang ngambil gambar untuk foto prawedding.
udaranya sumpah.. duinginnnn banget,,,,,
kalo ke pananjakkan aq saranin jangan pake kuda coz gak begituu tinggi qo..
aku miris banget liat orang indonesia naek kuda padahal orang asing ajja jalan kaki, dan 1 lagi kawan aq di ketawain ama orang belanda tuh yang ada fotonya !!! coz aku orang indonesia tapi baru pertama kali datang untuk lihat sunrise...
mmmm..... aneh yaa,,,
sekian kawan,,, tunggu cerita liburan ku selanjutnyaa yaa :)
cerpen kku
PEROMPAK PULAU
Di sebrang sana terlihat puncak gunung yang menjulang tinggi, tertutup sedikit oleh cumulus cloud atau awan kumulus yang berbentuk gumpalan gumpalan seperti ice cream cone. Mmm.... khayalan ku mulai terbang terbawa angin sore yang sejuk. Sejak kepindahan ku ke pulau ini, rasanya alam seperti milikku saja. Bersatu dengan alam melihat alam begitu dekat, manuai kesejukkan yang tiada tara. Pulau ini termasuk pulau terpencil dan tidak ada lagi orang selain keluarga ku dan keluarga pak morgan. Ayahku dan pak morgan teman dekat dari kecil hingga memiliki perusahaan peneliti terbesar di eropa. Tapi selang beberapa tahun ayah memutuskan perpindahanya ke pulau ini demi menikmati masa tuanyadan merefreskan pikiranya karna kebangkrutan perusahaan itu. Pak morgan pun mengikuti jejak ayahku karena tak ingin berpisah dengan kawan lamanya. Aku dan kawanku mengikuti jejak para ayah kami tercinta, meneliti pepohonan baru dan alam yang terbentang luas. Sepertinya di mulai dari pulau ini terlebih dahulu, dan jika memungkinkan beru aku melancong keluar pulau bersama kawan ku itu. Kami juga akan memecahkan isi rahasia yang membuat perusahaan ayah ku bangkrut.
Burung bertengger berkicau diantara dahan pepohonan, puncak gunung masih terlihat jelas, suara ombakpun terdengar melayun merdu di telinga. Aku duduk diantara ranting pohon yang patah sambil membawa peralatan lukisku, melukis keindahan yang maha esa dalam kanvas adalah hobby ku sejak kecil. Kenalkan aku reina keturunan indonesia jepang dan besar di eropa. Disebelahku terdapat beberapa kamera dan file dokumen serta foto foto yang sedikit berserakan. “hai, reina”. Ia membuyarkan lamunan inspirasi melukisku. Itu dia teman yang ingin ku kenalkan, namanya vo. Anak tunggal pak morgan, dia dua tahun lebih tua dariku, dia suka mengambil obyek foto alam dan memasukkanya dalam dokumen penting perusahaan. Ia ingin membangkitkan perusahaan itu lagi. “reina, ayo temani aku menyusuri hutan hingga kaki gunung, aku ingin mencari obyek foto yang lain. Kau boleh membawa peralatan lukismu. Ayo aku bantu”. “baiklah vo, tapi jangan terlau malam ya”. Akhirnya kami berangkat, manyusuri hutan sahabat kami, menemukan berbagai spesies hewan dan tumbuhan aneh yang belum pernah kami lihat di eropa. Waw... spektakuler. Kelembapan hutan ini sangat tinggi karena matahari tak dapat masuk menyinari dedaunan jelas vo kepadaku. Aku mengerti sekarang mengapa celana dan sepatu kets ku basah. Untunglah kanvas yang aku bawa tidak terlalu besar, sehingga tak terkena air dari dedaunan para pohon. Ternyata selama satu bulan aku tinggal disini, banyak hal yang belum aku ketahui dari pulau ini. Maklum lah aku anak tunggal wanita dan tidak bebas bergerak kesan kemari, tetapi vo sangat beda dengan aku dia anak tunggal pria pak morgan yang sangat pemberani dan senang berpetualang sembari mencari obyek foto.
Membutuhkan waktu selama 30 menit untuk sampai ke kaki gunung, menyusuri sungai kecil yang jernih dan rerumputan seperti savana dalam kisah teletubies. Setelah sampai ke kaki gunung, emh... sejuk sekali, pemandangannya pun indah. “rei, apakah kau suka dengan pemandangan ini ?”tanya vo. Jelas vo aku menyukainya dan aku berlari kesana kemari. Dan upss... aku terperosok dalam lubang kecil, vo lari mengejar dan menolongku. Untunglah lubangnya tidak terlalu dalam. “sebentar vo, jangan tarik aku dulu untuk naik. Sepertinya ini ada tanda merah. terlihat jelas garis merah melingkar dalam salah satu sisi lubang”. Mirip film perompak pikirku. Vo langsung bergerak memotret garis merah dan keadaan sekitar kaki gunung. Apa itu, apakah itu harta karun seperti dalam film film yang pernah ku lihat di video, aku bergumam dalam hati. “ayo rei, naik!!!” bentak vo.
Malam begitu dingin, aku meringkuk dalam bad cover hijau muda milikku. Aku masih memikirkan garis lubang tadi, kami sepakat untuk tidak memberitahukan kepada orangtua kami masing – masing. “tlit” laptopku berbunyi tanda ada email masuk. Emh.. ternyata dari vo. Dia ingin mengajakku ke gunung besok pagi melihat matahari terbit dan mencari jejak merah, dia mengetahui bahwa benar benar ada beberapa perompak tempo hari yang memasuki pulau kami.
Aku telah menunggu didekat perapian depan rumah, “rei..rei..”. vo sudah datang dengan perlatan hiking lengkap dengan tas besar di pundaknya. Sedangkan aku hanya membawa beberapa sandwich sebagai bekal dan jaket. Kami berjalan melewati jalur yang tadi siang kami lewati, rupanya vo sudah cukup hafal dimana letak lubang dan air yang tidak boleh kami lewati. Akhirnya kami sampai di lubang tempatku terperosok jatuh di dalamnya, garis merah masih terlihat jelas tak berubah. Rei, ayo kita naik. Sebelum naik ke puncak yang terjal ia mengaitkan alat berupa tali yang menghubungkan tubuhku dengan tas dan tubuhnya di bagian belakang, rupanya ia tak ingin aku terluka dan jatuh akibat kecerobohan ku. Vo melangkah didepan ku mencari jalur aman, mendaki dengan susah payah dan menebas habis bebatuan yang menghalang. “Vo...” teriakku. Ia menoleh melihatku. Aku mengibaskan tanganku ke arah kanan dan memberi tahunya dengan isyarat bahwa ada tanda merah melingkar lagi di batu sebelah kananku. Vo memutar balikkan badannya dan menyiapkan kamera CLRnya, memotret dan mencatat sembari mengingat ingat letak pasti batu ini. Malam masih kelam dan gelap masih menyelimuti bumi ini. “ayo rei, kita naik. Sepertinya aku sudah mulai hafal letak batu perompak ini”. “tapi vo, aku lelah. Sepertinya aku sampai disini saja”. “tidak rei, kamu harus naik sampai kepuncak dan menemukan batu perompak”. Oh... baikalah aku mengalah, batu terjal sangat mendukungku untuk terpeleset apalagi aku tipe orang yang ceroboh.
Yiihhaaa !!! amazing..., aku berteriak kegirangan. Gunung ini indah sekali, di puncak terdapat kawah lima warna sekaligus sekilas seperti danau kalimutu di lombok, indonesia. Vo hanya tersenyum kecut memandangi ku yang bersikap seperti anak kecil dan manja. “vo, aku siap untuk mencari batu perompak itu !!!” kata ku dengan semangat 45. Mungkin sekitar 20 menit lagi matahari akan muncul, mulai terlihat siluet cahaya matahari membentuk garis tengah, menerobos masuk ke dalam awan sirrus yang indah. Pantulan pelangi menyatu dalam awan, lautan mulai menampakkan wajahnya yang lembut seirinh hilangnya kabut yang menutupinya, kehijauan hutan pulau ini tampak segar dalam pikiran. “are you tired?” tanya vo. “oh tidak, pemandangan ini sudah cukup mengobati rasa capekku vo”. Sekilas aku memandangi kawah berwarna ini, sepertinya ada yang aneh dari kawah ini. “vo, kawah ini mengalami perubahan. Warnanya tidak seperti warna kawah pada umumnya. Coba kau bandingkan warna ini dengan warna kawah gunung yang pernah kau kunjungi vo, dan lihat di seberang sana tampak beberapa ranting pepohonan seperti bekas perapian yang baru saja di pakai”. Vo mendengarkan penjelasanku dengan seksama dan mencoba menghampiri bekas perapian serta tak lupa memotretnya demi penelitian. Ia bergumam sendiri sepertinya ia mencoba memecahkan sesuatu yang dianggap sulit ini. “ayolah vo, jangan kau pikirkan ini lebih dalam. Lebih baik kita cari lagi saja garis mereh perompak itu”. Vo mengangguk dan mengiyakan. Setelah kami memotret sun rise yang indah, kami memakan sandwich bekalku lalu menuruni gunung terjal ini sambil meluncur seperti anak kecil. “ayo reina, kita meluncur !!!” ujar vo bersemangat.
Keesokkan harinya ayah memanggilku untuk membantunya menyiapkan pelayaran. “reina, apakah kamu melihat garis merah perompak itu ?”. aku hanya mengangguk diam, “rei, teliti garis merah perompak itu dengan vo, lalu kirimkan hasilnya kepadaku melalui email. Aku dan morgan ingin melancong ke pulau sebrang mencari pinjaman kepal yang lebih besar untuk ke eropa”. Ehm... ternyata ayah sudah tau tentang garis perompak itu, bagaimana pun aku harus memecahkan garis itu sebelum ayah dan pak morgan pulang dari pulau sebrang.
Aku duduk memandangi lautan luas dari atas rumah pohon ku, vo sedang asyik memancing di tapi pantai. Setelah memandangi laut akupun mengirimkan email kepada temanku di eropa sekedar mnegbarkan bahwa pulau ini sangat seru dan aku berharap mereka bisa datang di liburan musim panas. “ei.. ada apa itu ??!!!” seruku. Aku meneropong jauh ke arah laut memerhatikan asap yang mengepul dari kapal besar ditengah laut tak jauh dari pulau ini. Aku melambaikan tangan ke vo, dan meyakinkan ada perompak datang !!!. “vooooooo !!!” aku berteriak kencang.
“siapkan tali itu, pengait, kail, box es kecil dan pistol ukuran mini ini, segera masukkan ke dalam tas ku rei !!! kamu bawa kamera pocket serta ht. Dan aku akan membawa ht yang lebih besar. Siapkan pula chip kecil yang bisa diselipkan, 5 buah jangan lupa !!!”. vo memerintahkanku menyiapkan semuanya. Kami akan memata matai perompak itu. Diperkirakan 5 menit lagi mereka sampai di tepi pantai. “ayo vo cepat, aku sedikit berteriak !!!”. kami menyusuri jalur yang kami lalui beberapa hari lalu ke kaki gunung, memasukki lubang lubang yang telah kami siapkan, menyiapkan teropong senjata kami. Para perompak telah menggali lubang tanda merah itu, mereka terbagi atas 4 kelompok berdasarkan lubang tanda merah perompak. Kami membagi tugas, suasana makin mencekam. Aku menelusuri dan memilih tempat paling bawah sambil terus mencoba mengabadikan dengan kamera pocket itu seraya menyalakan ht yang ku bawa agar ta lepas hubungan dengan vo. Dia mendaki gunung puncak teratas melalui samping kanan yang tak terlihat dari sisi kami disini. Dia mengabarkan bahwa, sang perompak sedang membicarakan sesuatu yang vo, tak mengerti bahasa apa itu. Aku menyarankan vo agar menempelkan chip itu pada kedua orang diatas. “aku sudah berhasil menempelkan kedua chip vo !!! ayo lekas”. “ baiklah sebentar lagi rei....”. sayup sayup kudengar memang sedikit dialek asing yang belum pernah ku dengar sebelumnya. vo mencoba merangkak mendekat sang perompak dari belakang dan menempelkan, yap !!!!.
Kami berdua memutuskan untuk meninggalkan pulau sementara dan mencari kabar di pulau seberang sana, berlawanan arah dengan pulau yang di tuju ayah dan pak morgan. ibu kami sedang mengurus rumah dan mengirim email kepada ayah dan pak morgan serta mengabarkan semua perihal perompak yang datang di pulau ini. Perahu ini milik keluarga pak morgan, alas bawahnya tidak seperti alas pada umumnya melainkan kaca yang dapat melihat jelas makhluk tuhan yang maha esa di dasar laut. Kami bersyukur karena laut ini masih terjaga kelestarianya, para ikan bergerak bebas, rumput laut bergoyang asyik. “rei...”. ehmf... vo membuyarkan lamunanku. “ada apa vo ?”. “rei, sepertinya kita harus bermalam di pulau itu dan melanjutkan perjalanan keesokkan harinya kepulau yang lebih besar itu. Bahan bakar kita tidak mencukupi rei, aku hanya punya persedian sedikit untuk makan tetapi hanya ada beberapa jam untuk mengejar waktu rei. Apakah kau punya ide yang lain ???”. aku berpikir sejenak, metutar otak sebisaku. “ahaa !!!, vo aku punya ide. Bagaimana kalau kita hanya mampir sejenak dipulau itu. Sembari mengisi bahan bakar dan mengumpulkan perbekalan. Tapi tenang saja aku membawa perbekalan lebih vo” ujarku bersemangat. Ia menganggukkan kepala bertanda setujudan menggeleng gelengkan kepalanya untuk yang terakhir seraya berkata “tidak rei, itu bekal mu dan aku tau kau sakit sakitan. Maka dari itu aku tak ingin mengambil jatah bekalmu”. Emm... baiklah aku mengalah. Seperempat jam lagi kami akan sampai kepulau kecil itu, padat penduduk memang tapi tak seramah orang indonesia. Vo mencari bahan bakar sedangkan aku pergi ke toko terdekat membeli bahan makanan yang cukup untuk kami berdua. “ayo rei lekas !!!”. “baiklah vo, tunggu sebentar”. Akhirnya kami malanjutkan pelayaran yang tak jauh lagi dari sini. Sekitar 4 jam lagi kami akan sampai.
Matahari telah menutup matanya, berganti dengan sinar bulan dan bintang yang menerangi malam. 1 jam lagi kami akan sampai di pulau besar itu. Sejak tadi kami mengobrol banyak sekali, ternyata banyak rahasia vo yang tidak ku ketahui. Dan aku baru tahu bahwa perompak itu menginginkan emas yang berada di dalam lubang garis merah perompak. Vo menjelaskan lagi bahwa, perompak itu sebenarnya musuh bebuyutan keluarga ku dan keluarga morgan. dan tujuan sebenarnya kami kepulau yang besar ini adalah untuk mencari tau siapa pemimpin perompak sekarang, karena belakangan ini diketahui bahwa ketua sang perompak telah tewas terbunuh di lautan. Kami juga akan melakukan penelitian tanaman di pulau besar itu, karena kami menyadari bahwa banayk hewan dengan berbagai spesies di pulau kami tapi tak satupun tanaman yang dapat bertahan lama di pulau kami. Mmm.. kalau ku pikir pikir para perompak itu membantu kami, karna jika perompak tak datang maka kapan lagi kami akan melakukan penelitian tanaman. Hihihi.. aku tertawa sendiri. Tanpa kusadari ternyata vo memandangiku dari pojok dek kapal. “ada apa vo ??? ada yang aneh ya ?”. “ehm... tidak, aneh saja kau ini anak seorang peneliti malah hobby melukis dan ceroboh sekali dirimu rei”. Aku hanya tersenyum kecil mendengar perkataan itu. Aku sedikit menggigil kedinginan, dan vo dengan segera meletakkan selimutnya ke pundakku.
“tarik talinya, turunkan jangkarnya” suara pemuda terdengar jelas ketika kapal ku akan melabuh. “rei bangun, kita sudah sampai”. Ehm.. baiklah aku bangun dengan badan sedikit sempoyongan karena mendadak aku sakit kepala. Tapi tugas ini harus aku jalankan demi perusahaan dan demi pulau tempat tinggalku. Kami menginap sementara di rumah salah satu penduduk pulau ini.
Pagi buta kami sudah berjalan melewati perkebunan, jalan bebatuan dan sungai lebar yang deras arusnya. Kami berjalan menuju pusat kota pulau itu. Central office para perompak terletak 4 kilo dari pusat kota. Belum ada orang yang kami temui di pulau ini, mungkin karena kami bangun terlalu pagi dan meninggalkan rumah. “vo, apakah kita akan mengatur strategi lagi sesampainya kita di central office perompak ?”. ia hanya mengangguk pelan, vo memang jarang bicara dan tak cerewet sepertikku. “vo, tidakkah sebaiknya kita mencegat bus untuk pergi ke kota ?”. ia hanya tersenyum, aku mulai sebal dengan vo. Kami mualai di landa kebingungan ketika kami sampai di terminal. Vo tetap yakin dan teguh ketika memilih bus jurusan ke kota, tapi perasaan ku tak enak dan aku tak ingin menaiki bus yang di tumpangi vo. Selang beberapa menit lamanya kami memutuskan untuk menaiki bus yang berbeda dengan tujuan sama yaitu kota. “baiklah vo, aku akan menaiki ini”. Bus yang aku tumpangi berangkat terlebih dahulu karena biayanya lebih mahal jadi tak perlu menunggu lama. Aku hanya diam dan memandangi sekitar, ht senjataku masih tersimpan bagus didalam tas rasel yang ku pakai. Tak lama kemudian aku terlelap.
“ehmf... tolong !!! help me please !!!” aku berteriak. Ruangan ini gelap, tangan ku ditali aku di bekap !!!. aku ditarik menuju lorong panjang dan didudukkan di sebuah kursi lebar. Setelah mata dan tangan ku terbuak semua aku lemas tak berdaya. Seseorang memukulkan tongkat ke meja depanku persis sehingga aku tersadar. “apa yang telah kau perbuat terhadap perompak ??!!!” tanya orang itu sembari menyentakku dan menaikkan daguku. “cepat jawab !!!”. saat itu pula ht ku berbunyi tanda vo memberikan sinyal kepadaku. Aku berusaha menjawab tetapi sial... !!! orang besar itu memergoki k seraya mengambil ht dari dalam ranselku yang paling luar. “rei..rei... dimana kamu, aku sudah berada di pusat kota. Rei..rei....”. hanya sayup sayup terdengar. Saat kulihat papan namanya orang besar itu bernama john. John langsung menutup ht dan membantingnya ke lantai. Ehm... putus sudah harapanku.
Vo masih sibuk mencari reina, ia sudah menenteng dua buah tas kertas berisi makanan yang akan dimakan bersama rei di taman kota tapi apa daya rei tak ada di sampingnya. Hubungan melalui ht pun tak bisa di lakukanya, ia berusaha menggunakan telepati. Mmm... kemana perginya rei ia bergumam sendiri sembari menghabiskan sisa roti sarapanya itu. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan sendiri tanpa menunggu rei, ia melihat plang tanda arah menuju central office perompak. Sepertinya di pulau ini para perompak dibiarkan begitu saja berlalu lalang. Ia pun ingat akan identitas dirinya sebagai anak pak morgan yang musuh bebuyutan perompak. GAWAT !!!. reina paling bahaya karena ia anak pak reno pemegang perusahaan di eropa itu sebelum di bangkrutkan oleh para perompak yang ingin menjatuhkan tahta pak reno. Ia memutar otak, mencari jalan bagaimana bisa menyamarkan identitas rei !!!
Akupun dimasukkan kedalam kamar berukuran kecil layaknya penjara menurutku. Tas ku di geledah dan di keluarkan semua isinya. Chip yang kemarin aku tempelkan pada dua orang perompak sudah tidak berfungsi lagi, aku bingung bagaimana cara ku menghubungi vo. Aku bingung setengah mati.
Setelah sampai di perempatan jalan vo, memutuskan untuk mneyusun strategi terlebih dahulu. Ia melihat keadaan sekitar. Akhirnya ia akan berpura pura menjadi pengantar mesin di central office perompak dan meninggalkan tas serta perlengkapanya di sebuah gubug mungil ujung jalan. Tak tau kepunyaan siapa gubug itu. Ia segera mencari toko mesin terdekat dan menawarkan jasa pembantu sementara. Kebetulan ada salah satu toko mesin yang sedang membutuhkan jasa dan ia harus mengantarkan ke cop (central office perompak). Akhirnya iapun langsung menyetujuinya.
“apakah kamu benar putra pak reno ?” tanya john tegas. Aku hanya bisa mengangguk pelan. Dia terlihat menggeleng gelengkan kepala dan membentakku lagi seraya berkata “mau apa kau kesini ? meminta perusahaan itu lagi atau menghalangi kami merebut pulau kecilmu itu ?!!!”. aku tertegun diam. “sudah masukkan dia ke penjara bawah tanah dan jangan beri dia makan sebelum dia menjawab pertannyaanku” ia menyuruh algojo yang berdiri disampingku. Aku diseret dengan paksa dan dimasukkan kedalam penjara bawah tanah yang super duper sempit pluz ditambah genangan air, mirip seperti penjara bawah tanah lawang sewu. “aaaaa.........” aku berteriak memberontak.
Sebentar lagi vo memasukki cop, ia di periksa terkebih dahulu. Ia takut jika masih ada yang mengenali wajahnya setelah 2 tahun tak bertemu. Vo memang beruntung, ia berhasil masuk dan menemui atasan cof demi meminta tanda tangan barang kiriman itu. Setelah menunggu beberapa saat keluarlah john dari ruangannya, ia tegap memandangi vo yang sedikit ketakutan dan menggigil keringat dingin. Sebelum proses tanda tangan itu selesai john menyerongkan badannya dan memanggil salah satu algojonya. “bagaimana keadaan rei, apakah dia mau menjawab pertanyaanku ?”. “belum pak”. “baiklah tetap kurung dia disana, jangan biarkan dia keluar ruang bawah tanah itu”. Vo kaget setengah mati dan tak membayangkan bahwa rei itu adalah reina. iya itu reina !!!. bagaimana cara vo bisa menerobos masuk kedalam ruang bawah tanah. Akhirnya ia meminta izin pada john untuk memeriksa mesin penggiling yang terletak dekta penjara bawah tanah. Sebenarnya vo asal bicara, tapi tak sangka ternyata omongnya benar juga. “algojo, silahkan temani anak ini untuk memeriksa mesin penggiling kita”. Aku langsung menuju lorong panjang dan berputar putar melewatinya, seiring ku berjalan seiring pula aku memikirkan bagaimana cara melepaskan rei....
“hahaha, pak morgan bagaimana ini bisa terjadi ?” canda pak reno saat mau memasukki rumah. “biarlah pak, tanaman itu berkembang subur didaerah sekeliling rumah” kata pak morgan membalas. Dari jauh terdengar teriakkan serra, istri pak reno “vo dan rei belum pulang 3 hari yang lalu. Mereka pergi bersama ke pulau besar itu untuk mencari pimpinan cop, apakah kau tidak ingin menyusulnya ?”. pak reno tertegun diam dan menghampiri pak morgan seraya menjelaskan menyusun strategi, mereka tak ingin buah hatinya tertimpa masibah akibat jatuhnya perusahaan yang dipimpin orang tuanya itu.
Reina masih diam termenung di dalam penjara bawah tanah atau pbt itu. Ia tak ingin menyebutkan identitasnya !!!. ia memikirkan bagaimana caranya untuk menyembunyikan ini. Ia sedikit gelisah ketika memikirkan vo yang mungkin masih menunggunya di kota.
Vo berhasil memasukki tempat penggilingan dan memeriksa mesinnya. Vo melihat sedikit celah dari ruang bawah tanah yang memang bersebelahan dengan tempat penggilingan. Ia pun menyenggol perut sang algojo dan memukulnya hingga jatuh. Ia berhasil memecahkan titik utama. Ia berlari menuju ruang bawah tanah yang gelap, ia melihat hanya ada satu algojo yang berdiri disana, tapi ukuranya lebih besar dari algojo yang ia musnahkan pertama kali.
Pak morgan dan pak reno segera berangkat keesokkan harinya menaikki kapal yang tadinya mereka ingin gunakan ke eropa. Dengan perbekalan secukupnya mereka meninggalkan pulau kecil, tanpa transit di pulau terdekat seperti yang dilakukan kedua anak mereka. 8 jam perjalanan mereka tempuh. Strategi dan senjata telah mereka siapkan demi menolong rei dan vo.
Reina mencari cara bagaimana ia keluaar dari sana, terlihat sedikit cahaya matahari yang memantul dari ujung jendela. Ia mencoba merangkak menuju jendela itu. Tangannya tak sampai untuk kesana, bagaimana ini...
Vo mengeluarkan senjata apinya yang ia ambil dari algojo pertaman dan menembakkanya tepat di kepala algojo yang menjaga rei. Ia lalu berlai sedikit berteriak “rei !!! apakah kamu disana”. Vo sibuk mencari kunci penjara bawah tanah. Amazing !!! vo menemukanya dengan peluh yang membasahi lalu ia bergerak menuju penjara itu. Dan kembali berseru “ rei..rei..rei...!!!”.
Pak morgan dan pak reno telah melabuh di sana, benar dugaan mereka ia menemukan kapal milik pak morgan yang mungkin di bawa oleh vo.
Rei mendengar teriakkan kecil itu lalu ia mencoba meringkuk membalikkan badan ke arah luar penjara tapi apa daya ia malah terpeleset dan terjembab jatuh. “vo aku disini” rei mulai kehilangan suara dan kesadaranya tapi ia mencoba perlahan menuju pintu penjara yang penuh air lumut.
Vo berlari kecil menuju penjara bawah tanah dan mencari dimana reina, sekilas ia melihat ada yang menggenang di sana, apakah itu rei ???. ia langsung menarik badan itu dan benar ternyat itu rei.... ia langsung mencoba meloncat melewati kubangan air dan memanjat ke atas sedikit ke arah jendela penjara. Sempit sekali memang, rei tak sadarkan diri karena kehabisan oksigen di dalam penjara yang sempit ini.
Pak morgan dan pak reno mencoba menelusuri dan mencari bus ke arah kota, tapi hari mulai semakin senja. Sesuatu yang tak mungkin jika mereka berkeliaran di pulau itu. Apalagi tak mengerti jalan tama menuju kota.
Rei dan vo berhasil keluar dari penjara bawah tanah. Vo masih menggendong rei, karna ia belum sadarkan diri. Vo menjelajah masuk, melewati para algojo yang menjaga cop. Akhirnya mereka berhasil keluar dari pintu seberang yang jarang di jaga oleh algojo. Setelah rei siuman, mereka berjalan menuju pusat taman kota. Dengan tergopoh gopoh mereka berlari kecil agar john dan para algojonya tak melihat. Hari sudah makin malam, sampai juga mereka di pusat taman kota. Selang beberapa saat mereka bercerita satu sam lain dengan harapan dapat memecahkan masalah ini.
“John,,,, ya tak salah lagi dia john” saut rei ketakutan dari balik dinding tampat mereka tidur sekaligus bersembunyi. “rei... diam, tenanglah sedikit rei”. Dengan terpaksa aku merubah air mukaku menjadi sok tenang, padahal kegelisahan masih menyelimuti diriku. Kami berdua telah mengetahui bahwa john pemimpin perompak yang baru. Ia kejam dan angkuh. Mereka memutuskan untuk berdiam diri dahulu di tempat itu,
Morgan dan reno telah sampai di pusat kota, ia melihat segerombolan orang asing masuk. Mereka telah merubah pakaian mereka demi menyembunyikan identitas asli, mereka tau jika memasuki pulau ini sama saja BUNUH DIRI. Setelah mereka turun dari bus, mencari tempat persembunyian yang aman diantara pusat taman kota yang tidak sebesar di eropa pada umumnya. Mereka memutuskan unutk singgah di warung kecil yang menghadap pusat taman kota sembari memperhatikan segerombolan orang asing berseragam. Mereka berbisik.
“Dimana rei !!!”. teriak john setelah berkeliling di taman kota. “maaf john saya tidak melihat keberadaan rei semenjak matahari terbit” ujar sang algojo. “cari sekarang, CEPAT !!!” nada bicara john semakin tinggi. Para algojo segera mencari di pusat taman kota, pelosok dan tempat tampat umum di pulau ini.
“vo, ayo kita tinggalkan tempat ini sebelum terlihat oleh perompak dan para algojonya” pinta rei. “tapi rei, kita belum berhasil mendapatkan dokumen itu, kita harus membangkitkan perusahaan itu lagi rei. Tapi baiklah aku akan menuruti permintaanmu rei, sekarang kita bergerak ke arah hutan di sebrang dan meneliti pepohonan sembari menghilang dari john brutal itu”. Kami segera berangkat dan sedikit berlari. Mereka memasukki hutan dan sibuk memotret pepohonan, melihat akar, umur pohon dan jenis tanah. Mereka menikmati seakan tak ada pikiran tentang john lagi.
Pak reno dan pak morgan menyusuri jalan taman kotan menuju cop (central office perompak). Mereka ingin menemui john baik baik, setelah sampai kahirnya mereka di izinkan masuk. John sedikit berteriak saat mereka masuk “mau apa mereka kemari ?, reno anak kamu kabur setelah aku menangkapanya untuk satu malam”. “kami hanya ingin bertanya mengapa kau sangat berambisi mendapatkan pulau kecil kami john ?” tanya pak morgan. sebelum pertanyaan itu selesai pak reno telah menyiapkan senjata untuk membunuh john, dan... “jdar..jdar...” john pun jatuh tak berdaya para algojo kaget menanti diluar, algojo berpikir jika itu sebuah tembnakkan yang diberikan kepada pak morgan dan pak reno. Mereka tak risau ataupun gusar. Reno dan morgan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, mereka segera mencari dokumen penting perusahaan perompak jatuhkan hingga kebangkrutan melanda mereka berdua. “cepat morgan !!!” ujar pak reno. “ini dia !!! iya benar ini dokumen itu” sela pak reno. Baiklah ayo kita keluar melewati atap yang tak mungkin dijaga oleh para algojo.
Rei sibuk memotret sedangkan vo mencari bibit yang bisa di bawa pulang. Tiba – tiba vo mendengar gerombolan sepatu kearah mereka. Vo langsung menarik rei. “rei, ayo naik kepohon ini tutpi badan mu dengan daun yang lebat !!! cepat rei..”. nafas rei mulai tak teratur. Gerombolan algojo john berhenti tapat di bawah mereka. Rei pucat, ketakutan. Tak lama kemudian geombolan itu meninggalkan hutan berlari kearah dalam hutan. Vo menuruni pohon dan membuat jebakan, ia menaruh sobekan baju rei dan vo serta sandal yang tak mereka pakai, ia sengaja menyobek tangannya agar darah segar muncul. Rei tak tega melihatnya, ia hanya bisa berdiam diri di atas pohon, wajahnya semakin pucat ketakutan. Jebakan vo telah selesai, ia buat jebakan itu agar mereka mengira bahwa ada binatang buas yang memekan mereka berdua, padahal mana ada binatang buas di hutan yang tidak begitu lebat ini, batin vo. Jebakan telah selesai, bibit juga sudah di masukkan kedalam tas, dan rei... . “rei ayolah kita turun” ujar vo sembari membereskan dan menutup luka tangan nya yang masih mengucur deras. Mereka akhirnya turun dan mencari bus ke arah pelabuhan kecil tampat kapal mereka.
Pak reno dan pak morgan berhasil lolos dari cop, mereka langsung menuju pelabuhan juga. Tak disangka mereka telah mendapatkan dokumen itu dan berhasil membunuh john. Mereka bisa tertawa puas, tapi.. “morgan, bagaimana dengan nasib anak anak kita ?”. setelah menaiki bus, mereka menyimpan rapat rapat dokumen itu. Mereka terlihat capek dengan perjuangan yang sangat.
Rei dan vo terlihat berlari menuju kapal, mereka tak ingin terkejar oleh gerombolan perompak. Setelah menaikkan jangkar dan melepas tali tak sengaja rei melihat kapal besar menuju eropa. “vo bukankan itu kapal yang akan di gunakan oleh kedua orang tua kita untuk menuju eropa ? apakah mereka ada di sini vo ? vo aku makin khawatir. Bagaimana jika mereka tertangkap seperti nasib ku vo. Vo aku tak ingin pulang sebelum mereka kembali ke kapal ini” rei menggebu gebu. Vo tak menghiraukan rei, tetap menyalakan mesin dan bergerak menuju pulau mereka. Vo mencoba menenagkan rei, 8 jam akan mereka tempuh.
Pak morgan dan pak reno telah sampai di pelabuhan, mereka tak melihat kapal anak mereka lagi. Mereka agak puas, mereka berpikir jika anak mereka telah selamat dan pulang kepulau. Hanya beda 2 jam saja dengan rei dan vo.
Siang ini begitu panas menyekat, peluhpun mulai bercucuran tapi kesenangan yang tiada tara mengahampiri keluarga morgan dan keluarga reno. Mereka sampai di pulau kecil dengan selamat, luka di tangan vo pun sudah sembuh, pak morgan serta pak reno mengurus dokumen dan membangkitkan perusahaan itu kembali, serta membuka usaha baru di pulau itu.
Pulau kecil itu telah banyak dikunjungi dan menjadi pusat wisata, lubang merah perompak telah di tutup, tanaman juga di benahi. Pantai menjadi ramai, gunung juga menjadi wisata. Akhirnya mereka bisa hidup bahagia tanpa usikkan dari para peompak yang jahat dan kejam itu. Vo dan rei melaksanakan kegiatan mereka meneliti dan berpetualang ke pulau lain dan laut laut, melestarikan terumbu karang. Pulau itu mereka namai pulau keba’ alias pulau kelam bangkit, sesuai dengan perjuangan mereka menyelamatkan ciptaan allah yang maha esa.
Langganan:
Postingan (Atom)